Posting Terbaru

QS.49:9 - "Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil."

QS.49:10 - "Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat."

Alloh masih menyebut mereka sebagai orang-orang mukmin, meskipun mereka tengah berperang. Dan dengan ini pula, Imam al Bukhari dan yang lainnya mengambil kesimpulan, bahwa seseorang tidak keluar dari keimanannya hanya karena berbuat maksiat meskipun dalam wujud besar, tidak seperti yang dikemukakan oleh kaum khawarij dan yang sejalan dengan mereka dari kalangan mu'tazilah dan yang semisalnya.

# Imam Ahmad meriwayatkan, 'Arim memberitahu kami, Mutamir memberitahu kami, ia bercerita :"Aku pernah mendengar ayahku memberitahukan bahwa Anas RA bercerita, "Pernah ditanyakan kepada Nabi SAW, 'Seandainya engkau mendatangi Abdullah bin Ubay.' Maka beliau pun berangkat menemuinya dengan menaiki keledai, lalu kaum muslimin berjalan kaki di tanah yang bersemak. Setelah Nabi SAW datang menemuinya, Ubay berkata, "Menjauhlah engkau dariku. Demi Alloh bau keledaimu telah mengganggu hidungku." Kemudian, ada seseorang dari kaum Anshar berkata, "Demi Alloh, bau keledai Rosululloh SAW itu lebih wangi daripada baumu." Hingga akhirnya banyak orang dari kalangan Abdullah bin Ubay marah padanya, lalu setiap orang dari kedua kelompok tersebut marah. Dan di antara mereka telah terjadi pemukulan dengan menggunakan pelepah daun kurma dan juga tangan serta terompah."" Perawi hadits melanjutkan, "Telah sampai kepada kami berita bahwasanya telah turun ayat yang berkenaan dengan mereka yaitu : "Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya."'

# Ibnu Hatim meriwayatkan dari Abdullah bin Amr RA, ia bercerita, "Rosululloh SAW bersabda, "Sesungguhnya orang-orang yang berbuat adil di dunia, kelak berada diatas mimbar yang terbuat dari mutiara dihadapan ar -Rahmaan aza wajalla atas keadilan yang pernah ia lakukan di dunia.""

# Dari Muhammad bin Abdullah bin Zaid, memberitahu kami, dari Abdullah bin Amr RA, dari Nabi SAW beliau bersabda, "Orang-orang yang berbuat adil disisi Alloh pada hari kiamat kelak berada di atas mimbar-mimbar yang terbuat dari cahaya di sebelah kanan Arsy, yaitu mereka yang berbuat adil dalam hukum, keluarga, dan semua yang berada di bawah kekuasaan mereka."

 

# Sabda Rosululloh SAW, "Seorang muslim adalah bagi muslim lainnya, tidak boleh menzhalimi dan membiarkannya (dizhalimi). " [HR.Muslim, at Tirmidzi, Abu Daud, Ahmad]

 

# Jika Seorang Muslim mendoakan saudaranya dari kejauhan, maka Malaikat akan mengucapkan, "Amin dan bagimu sepertinya."

 

[Dikutip dari Tafsir Ibnu Katsir 7/481-484]

QS.49:6 - "Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu."

QS.49:7 - "Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalangan kamu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti (kemauan) kamu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu akan mendapat kesusahan tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus,"

QS.49:8 - "sebagai karunia dan nikmat dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana."

# Imam Ahmad meriwayatkan, Muhammad bin Sabiq memberitahu kami, Isa bin Dinar memberitahu kami, ayahnya memberitahuku, bahwasanya ia pernah mendengar Al Harits bin Abi Dhirar al Khuzai RA bercerita, "Aku pernah datang menemui Rosululloh SAW, maka beliau mengajakku masuk Islam. Maka akupun memeluk Islam dan mengikrarkannya. Kemudian beliau mengajakku mengeluarkan zakat, maka aku pun menunaikannya dan mengatakan, "Ya Rosululloh, aku akan pulang kepada rakyatku dan aku akan ajak mereka untuk masuk islam dan menunaikan zakat. Siapa saja yang memperkenankan seruanku itu, maka aku akan mengumpulkan zakatnya, dan kirimkanlah seseorang utusanmu kepadaku ya Rosululloh, sekitar waktu begini dan begitu guna membawa zakat yang telah aku kumpulkan."
Setelah al Harits mengumpulkan zakat dari orang-orang yang mematuhi seruannya dan telah sampai pada masa kedatangan utusan Rosululloh SAW, ternyata utusan tersebut tertahan dijalan dan tidak datang menemuinya. Al Harits pun mengira telah datang kemurkaan Alloh Ta'ala dan Rosul-Nya pada dirinya. Ia pun segera memanggil para pembesar kaumnya dan mengatakan kepada mereka, "Sesungguhnya Rosululloh SAW telah menetapkan waktu kepadaku, dimana beliau akan mengirimkanutusanny a kepadaku untuk mengambil zakat yang aku kumpulkan, dan bukan kebiasaan Rosululloh SAW untuk menyalahi janji, dan aku tidak melihat tertahannya utusan beliau melainkan karena kemurkaan Alloh. Oleh karena itu marilah kita pergi bersama-sama menemui Rosululloh SAW."
Kemudian Rosululloh SAW mengutus Al Walid bin Uqbah untuk menemui Al Harits guna mengumpulkan zakat yang telah dikumpulkannya. Ketika Al Walid berangkat dan sudah menempuh beberapa jarak, tiba-tiba ia merasa takut dan kembali pulang, lalu menemui Rosululloh SAW seraya berkata, "Ya Rosululloh, sesungguhnya Al Harits RA menolak untuk memberikan zakat kepadaku, bahkan ia bermaksud membunuhku." Maka rosululloh pun marah dan mengirimkan utusan kepada Al Harits.
Al Harits dan para sahabatnya pun bersiap-siap untuk berangkat. Ketika utusan beliau meninggalkan kota Madinah, al harits bertemu dengan mereka. Mereka berkata, "Inilah al Harits." Dan pada saat al Harits menghampiri mereka, ia berkata, "Kepada siapa kalian diutus?" "Kepadamu." jawab mereka. "Lalu untuk apa kalian diutus kepadaku?" tanya al Harits lebih lanjut. Mereka menjawab,"Sesungguh nya Rosululloh SAW telah mengutus al Walid bin Uqbah kepadamu, ia mengaku bahwa engkau menolak memberikan zakat dan bahkan engkau akan membunuhnya. " Maka al Harits berkata, "Tidak benar. Demi Robb yang telah mengutus Muhammad SAW dengan kebenaran, aku sama sekali tidak pernah melihatnya dan tidak juga ia mendatangiku. "
Dan setelah al Harits menghadap Rosululloh SAW, maka beliau bertanya, "Apakah engkau menolak menyerahkan zakat dan bermaksud membunuh utusanku?" Ia menjawab, "Tidak benar. Demi Robb yang telah mengutusmu dengan kebenaran, aku sama sekali tidak pernah melihatnya dan tidak juga ia mendatangiku. Dan aku tidak datang menemuimu, melainkan ketika utusan Rosululloh tertahan (tidak kunjung datang) dan aku takut akan muncul kemarahan dari Alloh Ta'ala dan Rosul-Nya." Ia mengatakan, pada saat itu turunlah surat al Hujuraat : "Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalangan kamu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti (kemauan) kamu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu akan mendapat kesusahan tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus, sebagai karunia dan nikmat dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana."


Alloh SWT memerintahkan agar benar-benar meneliti berita yang dibawa orang-orang fasik dalam rangka mewaspadainya, sehingga tidak ada seorangpun yang memberikan keputusan berdasarkan perkataan orang fasik tersebut, dimana pada saat itu orang fasik tersebut berpredikat sebagai pendusta dan berbuat kekeliruan, sehingga orang yang memberikan keputusan berdasarkan ucapan orang fasik berarti ia telah mengikutinya dari belakang. padahal Alloh SWT telah melarang mengikuti jalannya orang-orang yang berbuat kerusakan. dari sini pula, beberapa kelompok ulama melarang untuk menerima riwayat yang diperoleh dari orang yang tidak diketahui keadaannya karena adanya kemungkinan orang tersebut fasik. Namun kelompok lain menerimanya, menurut mereka, kami ini hanya diperintahkan untuk memberikan kepastian berita yang dibawa oleh orang fasik, sedangkan orang ini tidak terbukti sebagai orang fasik karena tidak diketahui keadaannya.

[Dikutip dari Tafsir Ibnu Katsir 7/475-478]

 

QS.49:2 - "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari."

QS.49:3 - "Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar. "


# Imam Al Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abi Mulaikah, ia bercerita, "Hampir saja dua orang terbaik, Abu bakar dan Umar celaka, ketika keduanya mengangkat suara dihadapan Nabi SAW pada saat datang rombongan Bani Tamim. Lalu, salah seorang dari keduanya meminta pendapat kepada al Aqra bin Habis RA, saudara Bani Mujasyi. Kemudian seorang yang lain meminta pendapat kepada yang lain. Nafi berkata, "Aku tidak hafal nama-nama orang yang dimintakan pendapat itu." Kemudian Abu Bakar berkata kepada Umar, "Engkau tidak bermaksud melainkan untuk menyelisihi aku." Umar berkata, "Aku tidak bermaksud menyelisihimu. " Sehingga suara mereka terdengar sangat tinggi tentang masalah tersebut (dalam mengusulkan siapa yang akan menjadi pemimpin Bani Tamim), sehingga Alloh Ta'ala menurunkan firman-Nya, "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari.""

# Imam Al Bukhari meriwayatkan dari Anas bin Malik RA, bahwa Nabi SAW pernah mencari Tsabit bin Qais RA, lalu ada seseorang yang berkata," ya Rosululloh, aku akan memberitahu keberadaannya kepadamu." Kemudian orang itu mendatangi rumah Tsabit bin Qais, lalu ia mendapatkannya dalam keadaan menundukan kepalanya (menangis). Maka ia pun berkata, "Apa yang terjadi pada dirimu?" Tsabit menjawab, "Benar-benar celaka, Sesungguhnya aku adalah seorang yang sangat keras suaranya. Aku telah mengeraskan suaraku melebihi suara Rasulullah SAW. Kalau begitu, sia-sialah amalku, dan aku termasuk ahli neraka." Orang itu datang kepada Nabi SAW dan memberitahu kepada beliau bahwa Tsabit bin Qais telah mengatakan begini dan begitu. Kemudian ia kembali lagi kepada Tsabit bin Qais diwaktu yang lain dengan membawa kabar gembira yang menakjubkan, Nabi SAW bersabda, "Pergilah ketempatnya dan katakan kepadanya, Engkau bukan penghuni neraka, tetapi engkau adalah penghuni Surga."

# "Sesungguhnya, seseorang berbicara dengan kata-kata yang diridhoi Allah Ta'ala yang ia tidak ingat lagi, maka dituliskan Surga untuknya. Dan sesungguhnya seseorang mengucapkan kata-kata yang dimurkai Alloh, lalu kata-kata itu tidak ia ingat lagi, maka Alloh akan mencampakannya ke dalam Neraka yang lebih jauh dari jarak antara langit dan bumi."

[Dikutip dari tafsir Ibnu Katsir 7/471-474]

QS.49:1 - "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."

 

# Dari Muadz RA, Nabi SAW pernah berkata kepadanya ketika ia diutus ke Yaman : "Dengan apa enkau memutuskan hukum?" Ia menjawab, "Dengan kitab Alloh Ta'ala." "Jika engkau tidak mendapatkannya? " Tanya Rosululloh SAW lebih lanjut. Ia menjawab, "Dengan Sunnah Rosululloh SAW." "Dan jika tidak mendapatkannya juga?" tanya beliau lagi. Ia menjawab, "Aku akan berijtihad dengan pendapatku." Lalu beliau menepuk dadanya seraya berucap, "Segala puji bagi Alloh yang telah memberikan taufik bagi utusan Rosululloh SAW atas apa yang telah diridhoi oleh Rosululloh SAW."

[HR.Ahmad, Abu Daud, At Tirmidzi, Ibnu Majah -- Oleh M.Nashiruddin Al Albani disebut sebagai hadits munkar - yaitu hadits yang celanya karena kebodohan siperawinya atau karena kefasikannya - dalam silsilah al ahaadiits adh Dhaiifah no.8810]

 

Yang dimaksud oleh Muadz ialah ia mengakhirkan pendapat, pandangan dan ijtihadnya setelah Al Quran dan Sunnah Rosululloh SAW. Seandainya ia mendahulukan ijtihad sebelum mencarinya di dalam Al quran dan al Hadits, maka yang demikian itu termasuk salah satu sikap mendahului Alloh dan Rosul-Nya.

 

Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, "janganlah kalian mengucapkan hal-hal yang bertentangan dengan Al Quran dan Al Hadits."

 

Mujahid mengatakan, "Janganlah kalian mendahului Rosululloh SAW dalam sesuatu hal, sehingga Alloh Ta'ala menetapkannya melalui lisan beliau."

 

[Dikutip dari Tafsir Ibnu Katsir 7/469-471]

# Diriwayatkan oleh Said bin Jubair bahwasanya ia berkata, "Saya pernah bertanya kepada Ibnu Abbas RA, 'Hai Ibnu Abbas, bagaimanakah tentang surah At Taubah menurutmu?' Ibnu Abbas menjawab, 'Surat At Taubah? Surah At Taubah adalah penjelas keburukan orang2 munafik.' Said berkata, "Saya bertanya lagi, 'Bagaimanakah halnya dengan surah Al Anfaal?' Ibnu Abbas menjawab, 'Surah Al Anfaal berkenaan dengan perang Badar.' Said berkata, "Saya bertanya lagi, 'Bagaimanakah halnya dengan surah Al Hasyr?' Ibnu Abbas menjawab, 'Surah Al Hasyr turun berkaitan dengan Bani Nadhir.'

# Dari Ikrimah, dari Ibnu abbas RA, dia berkata, "Ketika turun ayat,"Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh." Hal ini terasa berat bagi kaum muslimin ketika diwajibkan atas mereka agar satu orang tidak lari dalam menghadapi sepuluh orang musuh. Kemudian datanglah keringan, Allah berfirman, "Sekarang Allah telah meringankan kepada kamu dan Dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang." Dia berkata, "Ketika Allah memberikan keringanan jumlah kepada mereka, maka berkuranglah kesabaran mereka sesuai dengan keringanan yang diberikan."

[Dikutip dari Shahih Muslim  2/832 dan Fathul Baari 22/572 - Pustaka Azzam]

# Dari Al Barra bin Azib RA, bahwasanya Rosululloh SAW bersabda, "Orang Muslim bila ditanya dikubur, ia bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah yang haq selain Alloh dan bahwasanya Muhammad adalah Rosul Alloh, itulah firman Alloh, "Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang dzalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki."" [HR.Bukhari & Muslim]

 

# Imam Ahmad meriwayatkan dari Al Barra bin Azib RA, katanya, "Kami keluar bersama Rosululloh SAW dalam mengantar jenazah seseorang dari kaum Anshar sampai ke pemakaman. Setelah jenazah itu diletakan di lubang kubur, Rosululloh SAW duduk dan kami pun duduk disekitar beliau, seolah-olah ada burung yang hinggap di kepala kami. Beliau memegang sepotong kayu dan mengorek-ngorekanny a ke tanah, kemudian beliau mengangkat kepalanya, lalu berkata, "Mohonlah perlindungan kepada Allah dari siksa kubur." Beliau mengatakannya dua atau tiga kali, kemudian berkata, "Sesungguhnya hamba yang beriman itu, bila meninggal dunia dan menghadap ke akhirat, turunlah para malaikat kepadanya dari langit, dengan wajah putih seperti matahari, dengan membawa kain kafan dan wewangian dari surga, kemudian duduk disisinya sejauh pandangan mata.

Kemudian datang Malaikat maut dan duduk di dekat kepalanya, lalu mengatakan, "Wahai jiwa yang baik, keluarlah menuju ampunan dan keridhaan Alloh." Rosululloh SAW berkata, "Maka ruh itupun keluar, mengalir seperti cairan yang mengalir dari mulut tempat air dari kulit, kemudian langsung diambilnya tanpa menunggu sedetikpun ditangannya dan segera diletakkan dalam kafan dan wewangian itu, lalu keluar darinya seperti bau yang sangat harum yang tak ada bandingannya didunia. Para malaikat itu membawanya naik ke langit, setiap kali melewati sekelompok malaikat, mereka bertanya-tanya, "Bau apa yang harum seperti ini?" Mereka menjawab, "ini baunya si Fulan bin Fulan, sambil menyebutkan nama terbaiknya di dunia." Sampai di langit dunia (langit pertama), Malaikat kemudian meminta dibukakan pintu langit itu untuknya. Kemudian diantar oleh Malaikat yang ada disetiap langit menuju langit berikutnya, sampai langit ke tujuh. Maka Alloh berfirman: "Tulislah ia dalam daftar hamba-Ku di Illiyyin, lalu kembalikan dia ke bumi, karena dari tanah (bumi) itulah ia Ku-ciptakan, ke tanah itu ia Ku-kembalikan dan darinya Ku-keluarkan lagi."

Selanjutnya beliau berkata, "Maka ruh itu dikembalikan ke jasadnya, lalu datang dua Malaikat dan mereka pun mendudukkannya, kemudian bertanya kepadanya, "Siapa Rabb-mu?" Ia menjawab, "Rabb-ku adalah Alloh." Malaikat bertanya lagi, "Apa agamamu?" Ia menjawab, "Agamaku Islam." Malaikat bertanya,"Siapa orang yang diutus Alloh kepada kalian?" Ia menjawab, "Dia adalah Rosululloh." Malaikat bertanya, "Apa ilmumu?" Ia menjawab, "Aku membaca Kitabullah, lalu aku percaya kepadanya dan membenarkannya. "

Kemudian ada penyeru dari langit mengatakan, "hamba-Ku memang benar, maka berilah ia alas dan pakaian dari surga dan bukakan baginya pintu menuju surga, maka sampailah padanya kenikmatan dan kesenangan surga serta dilapangkan kuburnya sejauh pandangan mata." Lalu datanglah padanya seorang yang berwajah tampan, berpakaian bagus, berbau harum dan berkata kepadanya, "Bergembiralah dengan apa yang dulu telah membuatmu gembira, ini adalah hari yang dijanjikan kepadamu." Ia balik bertanya, "Siapa engkau ini, wajahmu adalah wajah yang membawa kebaikan." ia menjawab, "Aku adalah amal baikmu." Ia berkata, "ya Robb, jadikanlah kiamat, jadikanlah kiamat (hari ini juga), supaya aku dapat bertemu dengan keluarga dan harta bendaku."

 

Beliau pun bersabda, " "Sesungguhnya hamba yang kafir itu, bila meninggal dunia dan menghadap ke akhirat, turunlah para malaikat kepadanya dari langit, dengan wajah yang hitam, dengan membawa kain mish (bertenun kasar dari bulu), kemudian duduk sejauh pandangan mata.

Kemudian datang Malaikat maut dan duduk di dekat kepalanya, lalu mengatakan, "Wahai jiwa yang buruk, keluarlah menuju kemurkaan dan kemarahan Alloh." Rosululloh SAW berkata, "Maka ruh itupun bercerai berai diseluruh badannya, lalu Malaikat maut mencabutnya bagaikan mencabut kawat dari bulu domba yang basah, kemudian langsung diambilnya tanpa menunggu sedetikpun ditangannya dan segera diletakkan dalam kain mish itu, lalu keluar darinya seperti bau bangkai yang paling busuk yang tak ada bandingannya didunia. Para malaikat itu membawanya naik ke langit, setiap kali melewati sekelompok malaikat, mereka bertanya-tanya, "Bau apa yang sangat busuk seperti ini?" Mereka menjawab, "ini baunya si Fulan bin Fulan, sambil menyebutkan nama terjeleknya di dunia."

Demikian hingga sampai di langit dunia (langit pertama), Malaikat kemudian meminta dibukakan pintu langit itu untuknya, tetapi tidak dibuka. Kemudian Rosululloh SAW membacakan ayat ; "Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan." (QS.7:40)

 

Maka Alloh berfirman: "Tulislah ia dalam daftar hamba-Ku di Sijjin, di dasar bumi yang paling rendah, lalu ruhnya pun dicampakkan dengan kencang.

Kemudian beliau membaca ayat, "Barang siapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh." (QS.22:31)

 

Maka ruh itu dikembalikan ke jasadnya, lalu datang dua Malaikat dan mereka pun mendudukkannya, kemudian bertanya kepadanya, "Siapa Rabb-mu?" Ia menjawab, "Aku tidak tahu." Malaikat bertanya lagi, "Apa agamamu?" Ia menjawab, "Aku tidak tahu." Malaikat bertanya,"Siapa orang yang diutus Alloh kepada kalian?" Ia menjawab, "Aku tidak tahu." Kemudian ada penyeru dari langit mengatakan, "hamba-Ku memang dusta, maka berilah ia alas dari neraka dan bukakan baginya pintu menuju neraka.

Maka sampailah padanya sebagian dari hawa terik dan angin panas Neraka, lalu disempitkan kuburnya sehingga remuklah tulang-tulang rusuk-nya. Lalu datanglah padanya seorang yang berwajah buruk, berpakaian buruk, berbau busuk dan berkata kepadanya, "Terimalah kabar yang menyedihkan ini, ini adalah hari yang dijanjikan kepadamu." Ia bertanya, "Siapa engkau ini, wajahmu adalah wajah yang membawa keburukan." ia menjawab, "Aku adalah perbuatan burukmu." Ia berkata, "ya Robb, jangan jadikan hari kiamat.

 

[HR.Abu Dawud, An Nasa'i dan Ibnu Majah]

 

Dikutip dari Tafsir Ibnu Katsir 4/539-541

# Imam Ahmad mengatakan bahwa Abu Bakar ash Shidiq RA berdiri lalu memanjatkan pujian kepada Alloh, lalu ia berkata,"Hai sekalian manusia, sesungguhnya kalian telah membaca ayat ini : " Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudarat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk." Dan sesungguhnya kalian telah menempatkan bukan pada tempatnya. Sesungguhnya aku pernah mendengar Rosululloh SAW bersabda, "Sesungguhnya jika manusia melihat kemungkaran dan tidak mengubahnya, hampir saja Alloh Aza Wajalla menimpakan azab-Nya kepada mereka semuanya." [HR.Ashabus Sunan] 

 

# Abu Isa at Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Ummayah asy Syabani, ia berkata : "Aku pernah mendatangi Abu Tsalabah al Khusyani, lalu kutanyakan kepadanya, 'Bagaimanakah mengamalkan ayat ini?' Maka ia balik bertanya, 'Ayat yang mana?' Kemudian kukatakan, "Firman Alloh SWT, "Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudarat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." Ia menjawab, "Demi Alloh, sesungguhnya aku telah menanyakan hal itu kepada seseorang yang benar-benar mengerti. Aku pernah menanyakan hal itu kepada Rosululloh SAW, maka beliau menjawab, "Bahkan hendaklah kalian saling menyuruh berbuat ma'ruf dan saling mencegah kemungkaran, sehingga jika engkau melihat kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dunia yang diutamakan, dan kekaguman setiap orang kepada pendapatnya, hendaklah engkau menjaga dirimu sendiri dan tinggalkanlah orang-orang awam, karena dibelakang kalian masih ada hari-hari yang panjang. Orang yang sabar di dalam hari-hari itu tidak ubahnya seperti orang yang menggenggam bara. Bagi orang yang beramal pada hari-hari itu akan memperoleh balasan seperti balasan yang diberikan kepada lima puluh orang laki-laki yang beramal seperti amal kalian."

Abdullah bin Al Mubarak mengatakan, selain Utsbah, ada yang menambahkan, Dikatakan, "Ya Rosululloh, balasan lima puluh orang laki-laki dari kita atau dari mereka?" Beliau menjawab, "Bahkan balasan lima puluh orang laki-laki dari kalian." [HR.At Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu Majah, Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim]

 

Dikutip dari Tafsir Ibnu Katsir 3/172-173

#  Rasululloh SAW bersabda, "(Artinya), Jika salah seorang dari kalian telah selesai tasyahud akhir, hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah dari 4 perkara, katakan : 'Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari adzab jahannam, adzab kubur, fitnah hidup dan mati dan dari kejelekan (fitnah) al masih Dajjal'. [AllooHumma inii a'uudzu bika min ‘adzaabi jaHannama wamin ‘adzaabil qobri wamin fitnatil mahyaa wal mamaati wamin syarri fitnatil masiihid dajaal]. (Kemudian ia berdoa untuk dirinya apa yang terlintas dalam hatinya)." [HR.Muslim, Abu Awanah, An Nasai dan Ibnul Jarud]

Beliau SAW biasa berdoa dengannya saat tasyahud. [HR.Abu Daud dan Ahmad]

Dan beliau mengajarkan kepada para sahabat sebagaimana mengajarkan surat Al Quran. [HR.Muslim dan Abu Awanah]

[Dikutip dari Tuntunan Shalat Nabi - M.Nashiruddin Al Albani - bab Wajibnya memohon perlindungan dari 4 perkara]

Dari Ibnu Abbas RA., ia berkata : "Sesungguhnya Rosululloh SAW berdoa : "ALLOOHUMMALAKA ASLAMTU WABIKA AAMANTU WA'ALAIKA TAWAKKALTU WA ILAIKA ANABTU WABIKA KHOOSHOMTU ALLOHUMMA A'UUDZU BI'IZZATIKA LAA ILAAHA ILLAA ANTA ANTUDHILLANI ANTAL HAYYUL LADZII LAA YAMUUTU WAL JINNU WAL INSU YAMUUTUUNA." (Ya Allah, hanya kepada-Mu saya berserah diri, dan kepada-Mu saya percaya sepenuh hati, dan hanya kepada Engkau-lah saya kembali dan untuk-Mulah saya berjuang. Ya Allah, saya berlindung dengan kemuliaan-Mu yang tiada Tuhan selain Engkau dan aku mohon agar Engkau tidak menyesatkan diriku. Engkau adalah Zat Yang Hidup yang tidak akan pernah mati, sedangkan jin dan manusia semuanya akan mati.)
(HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Ibnu Abbas ra., ia berkata : "HASBUNALLOH WANI'MAL WAKIL, kalimat itu pernah dibaca oleh Nabi Ibrahim as. ketika beliau dilemparkan ke dalam api, dan juga dibaca oleh Nabi Muhammad saw. ketika orang-orang kafir mengatakan : "Sesungguhnya orang-orang Quraisy telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian. Oleh karena itu, takutlah kalian kepada mereka." Akan tetapi perkataan itu malah menambah keimanan mereka serta mereka mengucapkan : "HASBUNALLOHU WANI'MAL WAKIIL."
Pada riwayat Bukhari yang lain, bahwa Ibnu Abbas ra. berkata : "Kalimat terakhir yang diucapkan oleh Nabi Ibrahim ketika dilemparkan ke dalam api adalah "HASBUNALLOOHU WANI'MAL WAKIIL (Allah cukup menjadi Penolong bagi kami, Allah adalah sebaik-baik pelindung)."
(HR. Bukhari)

 

 [Dikutip dari Tarjamah Riyadhush Sholihin - ]

# Abdullah bin Imam Ahmad meriwayatkan dari Usaid bin Abi Usaid, dari Muadz bin Abdillah bin Habib dari ayahnya, dia berkata, "Kami pernah merasa haus dan berada dalam gelap gulita, sedang kami tengah menunggu Rasululloh SAW shalat bersama kami, lalu beliau keluar dan memegang tanganku seraya berkata, 'Katakanlah' Maka aku pun terdiam. Beliau berkata lagi, 'Katakanlah. ' Kutanyakan, 'Apa yang harus kukatakan?' Beliau menjawab, 'Qul Huwallaahu Ahad dan al Mu'awwidzatain (Al Falaq dan An Naas) saat memasuki waktu sore dan saat memasuki waktu pagi hari sebanyak tiga kali niscaya akan diberikan kecukupan kepadamu setiap hari dua kali.'"

Diriwayatkan oleh Abu Daud, at Tirmidzi, an Nasai dan Ibnu Abi Adz dzib.

At Tirmidzi mengatakan "Hasan shahih gharib"

Diriwayatkan pula oleh An Nasai melalui jalur lain dari Muadz bin Abdillah bin Habib dari ayahnya dari Uqbah bin Amir, lalu dia menyebutkan hadits tersebut. Dan lafadznya, "Maka ia akan mencukupi segala sesuatu."

[Dikutip dari Tafsir Ibnu Katsir - Surat Al Ikhlas - Pustaka Imam As Syafii - 8/573]