Posting Terbaru
QS.49:9 - "Dan jika ada
dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah antara
keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap
golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga
golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali
(kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan
berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku
adil."
QS.49:10 - "Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu
damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu
mendapat rahmat."
Alloh masih menyebut mereka sebagai orang-orang mukmin, meskipun mereka tengah
berperang. Dan dengan ini pula, Imam al Bukhari dan yang lainnya mengambil
kesimpulan, bahwa seseorang tidak keluar dari keimanannya hanya karena berbuat
maksiat meskipun dalam wujud besar, tidak seperti yang dikemukakan oleh kaum
khawarij dan yang sejalan dengan mereka dari kalangan mu'tazilah dan yang
semisalnya.
# Imam Ahmad meriwayatkan, 'Arim memberitahu kami, Mutamir memberitahu kami, ia
bercerita :"Aku pernah mendengar ayahku memberitahukan bahwa Anas RA
bercerita, "Pernah ditanyakan kepada Nabi SAW, 'Seandainya engkau
mendatangi Abdullah bin Ubay.' Maka beliau pun berangkat menemuinya dengan
menaiki keledai, lalu kaum muslimin berjalan kaki di tanah yang bersemak.
Setelah Nabi SAW datang menemuinya, Ubay berkata, "Menjauhlah engkau
dariku. Demi Alloh bau keledaimu telah mengganggu hidungku." Kemudian, ada
seseorang dari kaum Anshar berkata, "Demi Alloh, bau keledai Rosululloh
SAW itu lebih wangi daripada baumu." Hingga akhirnya banyak orang dari
kalangan Abdullah bin Ubay marah padanya, lalu setiap orang dari kedua kelompok
tersebut marah. Dan di antara mereka telah terjadi pemukulan dengan menggunakan
pelepah daun kurma dan juga tangan serta terompah."" Perawi hadits
melanjutkan, "Telah sampai kepada kami berita bahwasanya telah turun ayat
yang berkenaan dengan mereka yaitu : "Dan jika ada dua golongan dari
orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya."'
# Ibnu Hatim meriwayatkan dari Abdullah bin Amr RA, ia bercerita,
"Rosululloh SAW bersabda, "Sesungguhnya orang-orang yang berbuat adil
di dunia, kelak berada diatas mimbar yang terbuat dari mutiara dihadapan ar
-Rahmaan aza wajalla atas keadilan yang pernah ia lakukan di dunia.""
# Dari Muhammad bin Abdullah bin Zaid, memberitahu kami, dari Abdullah bin Amr
RA, dari Nabi SAW beliau bersabda, "Orang-orang yang berbuat adil disisi
Alloh pada hari kiamat kelak berada di atas mimbar-mimbar yang terbuat dari
cahaya di sebelah kanan Arsy, yaitu mereka yang berbuat adil dalam hukum,
keluarga, dan semua yang berada di bawah kekuasaan mereka."
#
Sabda Rosululloh SAW, "Seorang muslim adalah bagi muslim lainnya, tidak
boleh menzhalimi dan membiarkannya (dizhalimi). " [HR.Muslim, at Tirmidzi,
Abu Daud, Ahmad]
#
Jika Seorang Muslim mendoakan saudaranya dari kejauhan, maka Malaikat akan
mengucapkan, "Amin dan bagimu sepertinya."
[Dikutip dari Tafsir Ibnu Katsir 7/481-484]
QS.49:6 - "Hai orang-orang yang beriman, jika datang
kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar
kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui
keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu."
QS.49:7 - "Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalangan kamu ada Rasulullah.
Kalau ia menuruti (kemauan) kamu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu akan
mendapat kesusahan tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan
menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada
kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti
jalan yang lurus,"
QS.49:8 - "sebagai karunia dan nikmat dari Allah. Dan Allah Maha
Mengetahui lagi Maha Bijaksana."
# Imam Ahmad meriwayatkan, Muhammad bin Sabiq memberitahu kami, Isa bin Dinar
memberitahu kami, ayahnya memberitahuku, bahwasanya ia pernah mendengar Al
Harits bin Abi Dhirar al Khuzai RA bercerita, "Aku pernah datang menemui
Rosululloh SAW, maka beliau mengajakku masuk Islam. Maka akupun memeluk Islam
dan mengikrarkannya. Kemudian beliau mengajakku mengeluarkan zakat, maka aku
pun menunaikannya dan mengatakan, "Ya Rosululloh, aku akan pulang kepada
rakyatku dan aku akan ajak mereka untuk masuk islam dan menunaikan zakat. Siapa
saja yang memperkenankan seruanku itu, maka aku akan mengumpulkan zakatnya, dan
kirimkanlah seseorang utusanmu kepadaku ya Rosululloh, sekitar waktu begini dan
begitu guna membawa zakat yang telah aku kumpulkan."
Setelah al Harits mengumpulkan zakat dari orang-orang yang mematuhi seruannya
dan telah sampai pada masa kedatangan utusan Rosululloh SAW, ternyata utusan
tersebut tertahan dijalan dan tidak datang menemuinya. Al Harits pun mengira
telah datang kemurkaan Alloh Ta'ala dan Rosul-Nya pada dirinya. Ia pun segera
memanggil para pembesar kaumnya dan mengatakan kepada mereka, "Sesungguhnya
Rosululloh SAW telah menetapkan waktu kepadaku, dimana beliau akan
mengirimkanutusanny a kepadaku untuk mengambil zakat yang aku kumpulkan, dan
bukan kebiasaan Rosululloh SAW untuk menyalahi janji, dan aku tidak melihat
tertahannya utusan beliau melainkan karena kemurkaan Alloh. Oleh
karena itu marilah kita pergi bersama-sama menemui Rosululloh SAW."
Kemudian Rosululloh SAW mengutus Al Walid bin Uqbah untuk menemui Al Harits
guna mengumpulkan zakat yang telah dikumpulkannya. Ketika Al Walid berangkat dan
sudah menempuh beberapa jarak, tiba-tiba ia merasa takut dan kembali pulang,
lalu menemui Rosululloh SAW seraya berkata, "Ya Rosululloh, sesungguhnya
Al Harits RA menolak untuk memberikan zakat kepadaku, bahkan ia bermaksud
membunuhku." Maka rosululloh pun marah dan mengirimkan utusan kepada Al
Harits.
Al Harits dan para sahabatnya pun bersiap-siap untuk berangkat. Ketika utusan
beliau meninggalkan kota
Madinah, al harits bertemu dengan mereka. Mereka berkata, "Inilah al
Harits." Dan pada saat al Harits menghampiri mereka, ia berkata,
"Kepada siapa kalian diutus?" "Kepadamu." jawab mereka.
"Lalu untuk apa kalian diutus kepadaku?" tanya al Harits lebih
lanjut. Mereka menjawab,"Sesungguh nya Rosululloh SAW telah mengutus al
Walid bin Uqbah kepadamu, ia mengaku bahwa engkau menolak memberikan zakat dan
bahkan engkau akan membunuhnya. " Maka al Harits berkata, "Tidak
benar. Demi Robb yang telah mengutus Muhammad SAW dengan kebenaran, aku sama
sekali tidak pernah melihatnya dan tidak juga ia mendatangiku. "
Dan setelah al Harits menghadap Rosululloh SAW, maka beliau bertanya,
"Apakah engkau menolak menyerahkan zakat dan bermaksud membunuh
utusanku?" Ia menjawab, "Tidak benar. Demi Robb yang telah mengutusmu
dengan kebenaran, aku sama sekali tidak pernah melihatnya dan tidak juga ia
mendatangiku. Dan aku tidak datang menemuimu, melainkan ketika utusan
Rosululloh tertahan (tidak kunjung datang) dan aku takut akan muncul kemarahan
dari Alloh Ta'ala dan Rosul-Nya." Ia mengatakan, pada saat itu turunlah surat al Hujuraat : "Hai
orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu
berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah
kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal
atas perbuatanmu itu. Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalangan kamu ada
Rasulullah. Kalau ia menuruti (kemauan) kamu dalam beberapa urusan
benar-benarlah kamu akan mendapat kesusahan tetapi Allah menjadikan kamu cinta
kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan
kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah
orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus, sebagai karunia dan nikmat dari
Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana."
Alloh SWT memerintahkan agar benar-benar meneliti berita yang dibawa
orang-orang fasik dalam rangka mewaspadainya, sehingga tidak ada seorangpun
yang memberikan keputusan berdasarkan perkataan orang fasik tersebut, dimana
pada saat itu orang fasik tersebut berpredikat sebagai pendusta dan berbuat
kekeliruan, sehingga orang yang memberikan keputusan berdasarkan ucapan orang
fasik berarti ia telah mengikutinya dari belakang. padahal Alloh SWT telah
melarang mengikuti jalannya orang-orang yang berbuat kerusakan. dari sini pula,
beberapa kelompok ulama melarang untuk menerima riwayat yang diperoleh dari
orang yang tidak diketahui keadaannya karena adanya kemungkinan orang tersebut
fasik. Namun kelompok lain menerimanya, menurut mereka, kami ini hanya
diperintahkan untuk memberikan kepastian berita yang dibawa oleh orang fasik,
sedangkan orang ini tidak terbukti sebagai orang fasik karena tidak diketahui
keadaannya.
[Dikutip
dari Tafsir Ibnu Katsir 7/475-478]
QS.49:2 - "Hai orang-orang yang beriman, janganlah
kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata
kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebahagian kamu
terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan
kamu tidak menyadari."
QS.49:3 - "Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi
Rasulullah mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah
untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar. "
# Imam Al Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abi Mulaikah, ia bercerita,
"Hampir saja dua orang terbaik, Abu bakar dan Umar celaka, ketika keduanya
mengangkat suara dihadapan Nabi SAW pada saat datang rombongan Bani Tamim.
Lalu, salah seorang dari keduanya meminta pendapat kepada al Aqra bin Habis RA,
saudara Bani Mujasyi. Kemudian seorang yang lain meminta pendapat kepada yang
lain. Nafi berkata, "Aku tidak hafal nama-nama orang yang dimintakan
pendapat itu." Kemudian Abu Bakar berkata kepada Umar, "Engkau tidak
bermaksud melainkan untuk menyelisihi aku." Umar berkata, "Aku tidak
bermaksud menyelisihimu. " Sehingga suara mereka terdengar sangat tinggi
tentang masalah tersebut (dalam mengusulkan siapa yang akan menjadi pemimpin
Bani Tamim), sehingga Alloh Ta'ala menurunkan firman-Nya, "Hai orang-orang
yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan
janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya
(suara) sebahagian kamu terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak hapus
(pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari.""
# Imam Al Bukhari meriwayatkan dari Anas bin Malik RA, bahwa Nabi SAW pernah
mencari Tsabit bin Qais RA, lalu ada seseorang yang berkata," ya
Rosululloh, aku akan memberitahu keberadaannya kepadamu." Kemudian orang
itu mendatangi rumah Tsabit bin Qais, lalu ia mendapatkannya dalam keadaan
menundukan kepalanya (menangis). Maka ia pun berkata, "Apa yang terjadi
pada dirimu?" Tsabit menjawab, "Benar-benar celaka, Sesungguhnya aku
adalah seorang yang sangat keras suaranya. Aku telah mengeraskan suaraku
melebihi suara Rasulullah SAW. Kalau begitu, sia-sialah amalku, dan aku
termasuk ahli neraka." Orang itu datang kepada Nabi SAW dan memberitahu
kepada beliau bahwa Tsabit bin Qais telah mengatakan begini dan begitu.
Kemudian ia kembali lagi kepada Tsabit bin Qais diwaktu yang lain dengan
membawa kabar gembira yang menakjubkan, Nabi SAW bersabda, "Pergilah
ketempatnya dan katakan kepadanya, Engkau bukan penghuni neraka, tetapi engkau
adalah penghuni Surga."
# "Sesungguhnya, seseorang berbicara dengan kata-kata yang diridhoi Allah
Ta'ala yang ia tidak ingat lagi, maka dituliskan Surga untuknya. Dan
sesungguhnya seseorang mengucapkan kata-kata yang dimurkai Alloh, lalu
kata-kata itu tidak ia ingat lagi, maka Alloh akan mencampakannya ke dalam
Neraka yang lebih jauh dari jarak antara langit dan bumi."
[Dikutip
dari tafsir Ibnu Katsir 7/471-474]
QS.49:1 - "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului
Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha
Mendengar lagi Maha Mengetahui."
# Dari Muadz RA, Nabi SAW pernah berkata kepadanya ketika ia diutus ke
Yaman : "Dengan apa enkau memutuskan hukum?" Ia menjawab,
"Dengan kitab Alloh Ta'ala." "Jika engkau tidak mendapatkannya? "
Tanya Rosululloh SAW lebih lanjut. Ia menjawab, "Dengan Sunnah Rosululloh
SAW." "Dan jika tidak mendapatkannya juga?" tanya beliau lagi.
Ia menjawab, "Aku akan berijtihad dengan pendapatku." Lalu beliau
menepuk dadanya seraya berucap, "Segala puji bagi Alloh yang telah
memberikan taufik bagi utusan Rosululloh SAW atas apa yang telah diridhoi oleh
Rosululloh SAW."
[HR.Ahmad, Abu Daud, At
Tirmidzi, Ibnu Majah -- Oleh M.Nashiruddin Al Albani disebut sebagai hadits
munkar - yaitu hadits yang celanya karena kebodohan
siperawinya atau karena kefasikannya - dalam silsilah al ahaadiits adh Dhaiifah
no.8810]
Yang dimaksud
oleh Muadz ialah ia mengakhirkan pendapat, pandangan dan ijtihadnya setelah Al
Quran dan Sunnah Rosululloh SAW. Seandainya ia mendahulukan ijtihad sebelum
mencarinya di dalam Al quran dan al Hadits, maka yang demikian itu termasuk
salah satu sikap mendahului Alloh dan Rosul-Nya.
Ali bin Abi
Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, "janganlah kalian mengucapkan
hal-hal yang bertentangan dengan Al Quran dan Al Hadits."
Mujahid
mengatakan, "Janganlah kalian mendahului Rosululloh SAW dalam sesuatu hal,
sehingga Alloh Ta'ala menetapkannya melalui lisan beliau."
[Dikutip dari Tafsir Ibnu Katsir 7/469-471]
# Diriwayatkan oleh Said bin Jubair bahwasanya ia berkata, "Saya
pernah bertanya kepada Ibnu Abbas RA, 'Hai Ibnu Abbas, bagaimanakah tentang
surah At Taubah menurutmu?' Ibnu Abbas menjawab, 'Surat At Taubah? Surah At
Taubah adalah penjelas keburukan orang2 munafik.' Said berkata, "Saya
bertanya lagi, 'Bagaimanakah halnya dengan surah Al Anfaal?' Ibnu Abbas
menjawab, 'Surah Al Anfaal berkenaan dengan perang Badar.' Said berkata,
"Saya bertanya lagi, 'Bagaimanakah halnya dengan surah Al Hasyr?' Ibnu
Abbas menjawab, 'Surah Al Hasyr turun berkaitan dengan Bani Nadhir.'
# Dari Ikrimah, dari Ibnu abbas RA, dia berkata, "Ketika turun
ayat,"Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka
dapat mengalahkan dua ratus orang musuh." Hal ini terasa berat bagi
kaum muslimin ketika diwajibkan atas mereka agar satu orang tidak lari dalam
menghadapi sepuluh orang musuh. Kemudian datanglah keringan, Allah
berfirman, "Sekarang Allah telah meringankan kepada kamu dan Dia telah
mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang
yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang." Dia
berkata, "Ketika Allah memberikan keringanan jumlah kepada mereka, maka
berkuranglah kesabaran mereka sesuai dengan keringanan yang diberikan."
[Dikutip dari Shahih Muslim 2/832 dan Fathul Baari 22/572 - Pustaka
Azzam]
# Dari Al Barra bin Azib RA, bahwasanya Rosululloh SAW bersabda,
"Orang Muslim bila ditanya dikubur, ia bersaksi bahwa sesungguhnya tidak
ada Ilah yang haq selain Alloh dan bahwasanya Muhammad adalah Rosul Alloh,
itulah firman Alloh, "Allah
meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam
kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang
dzalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.""
[HR.Bukhari & Muslim]
# Imam Ahmad meriwayatkan dari Al Barra bin Azib RA, katanya, "Kami
keluar bersama Rosululloh SAW dalam mengantar jenazah seseorang dari kaum
Anshar sampai ke pemakaman. Setelah jenazah itu diletakan di lubang kubur,
Rosululloh SAW duduk dan kami pun duduk disekitar beliau, seolah-olah ada
burung yang hinggap di kepala kami. Beliau memegang sepotong kayu dan
mengorek-ngorekanny a ke tanah, kemudian beliau mengangkat kepalanya, lalu
berkata, "Mohonlah perlindungan kepada Allah dari siksa kubur."
Beliau mengatakannya dua atau tiga kali, kemudian berkata, "Sesungguhnya
hamba yang beriman itu, bila meninggal dunia dan menghadap ke akhirat, turunlah
para malaikat kepadanya dari langit, dengan wajah putih seperti matahari,
dengan membawa kain kafan dan wewangian dari surga, kemudian duduk disisinya
sejauh pandangan mata.
Kemudian datang Malaikat maut dan duduk di dekat kepalanya, lalu
mengatakan, "Wahai jiwa yang baik, keluarlah menuju ampunan dan keridhaan
Alloh." Rosululloh SAW berkata, "Maka ruh itupun keluar, mengalir
seperti cairan yang mengalir dari mulut tempat air dari kulit, kemudian
langsung diambilnya tanpa menunggu sedetikpun ditangannya dan segera diletakkan
dalam kafan dan wewangian itu, lalu keluar darinya seperti bau yang sangat
harum yang tak ada bandingannya didunia. Para malaikat itu membawanya naik ke
langit, setiap kali melewati sekelompok malaikat, mereka bertanya-tanya,
"Bau apa yang harum seperti ini?" Mereka menjawab, "ini baunya
si Fulan bin Fulan, sambil menyebutkan nama terbaiknya di dunia." Sampai
di langit dunia (langit pertama), Malaikat kemudian meminta dibukakan pintu
langit itu untuknya. Kemudian diantar oleh Malaikat yang ada disetiap langit
menuju langit berikutnya, sampai langit ke tujuh. Maka Alloh berfirman:
"Tulislah ia dalam daftar hamba-Ku di Illiyyin, lalu kembalikan dia ke
bumi, karena dari tanah (bumi) itulah ia Ku-ciptakan, ke tanah itu ia
Ku-kembalikan dan darinya Ku-keluarkan lagi."
Selanjutnya beliau berkata, "Maka ruh itu dikembalikan ke jasadnya,
lalu datang dua Malaikat dan mereka pun mendudukkannya, kemudian bertanya
kepadanya, "Siapa Rabb-mu?" Ia menjawab, "Rabb-ku adalah
Alloh." Malaikat bertanya lagi, "Apa agamamu?" Ia menjawab,
"Agamaku Islam." Malaikat bertanya,"Siapa orang yang diutus
Alloh kepada kalian?" Ia menjawab, "Dia adalah Rosululloh."
Malaikat bertanya, "Apa ilmumu?" Ia menjawab, "Aku membaca
Kitabullah, lalu aku percaya kepadanya dan membenarkannya. "
Kemudian ada penyeru dari langit mengatakan, "hamba-Ku memang benar,
maka berilah ia alas dan pakaian dari surga dan bukakan baginya pintu menuju
surga, maka sampailah padanya kenikmatan dan kesenangan surga serta dilapangkan
kuburnya sejauh pandangan mata." Lalu datanglah padanya seorang yang
berwajah tampan, berpakaian bagus, berbau harum dan berkata kepadanya,
"Bergembiralah dengan apa yang dulu telah membuatmu gembira, ini adalah
hari yang dijanjikan kepadamu." Ia balik bertanya, "Siapa engkau ini,
wajahmu adalah wajah yang membawa kebaikan." ia menjawab, "Aku adalah
amal baikmu." Ia berkata, "ya Robb, jadikanlah kiamat, jadikanlah
kiamat (hari ini juga), supaya aku dapat bertemu dengan keluarga dan harta
bendaku."
Beliau pun bersabda, " "Sesungguhnya hamba yang kafir itu,
bila meninggal dunia dan menghadap ke akhirat, turunlah para malaikat kepadanya
dari langit, dengan wajah yang hitam, dengan membawa kain mish (bertenun kasar
dari bulu), kemudian duduk sejauh pandangan mata.
Kemudian datang Malaikat maut dan duduk di dekat kepalanya, lalu
mengatakan, "Wahai jiwa yang buruk, keluarlah menuju kemurkaan dan
kemarahan Alloh." Rosululloh SAW berkata, "Maka ruh itupun bercerai
berai diseluruh badannya, lalu Malaikat maut mencabutnya bagaikan mencabut
kawat dari bulu domba yang basah, kemudian langsung diambilnya tanpa menunggu
sedetikpun ditangannya dan segera diletakkan dalam kain mish itu, lalu keluar
darinya seperti bau bangkai yang paling busuk yang tak ada bandingannya
didunia. Para malaikat itu membawanya naik ke langit, setiap kali melewati
sekelompok malaikat, mereka bertanya-tanya, "Bau apa yang sangat busuk
seperti ini?" Mereka menjawab, "ini baunya si Fulan bin Fulan, sambil
menyebutkan nama terjeleknya di dunia."
Demikian hingga sampai di langit dunia (langit pertama), Malaikat kemudian
meminta dibukakan pintu langit itu untuknya, tetapi tidak dibuka. Kemudian
Rosululloh SAW membacakan ayat ; "Sesungguhnya
orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya,
sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak
(pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami
memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan."
(QS.7:40)
Maka Alloh berfirman: "Tulislah ia dalam daftar hamba-Ku di Sijjin, di
dasar bumi yang paling rendah, lalu ruhnya pun dicampakkan dengan kencang.
Kemudian beliau membaca ayat, "Barang
siapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh
dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang
jauh." (QS.22:31)
Maka ruh itu dikembalikan ke jasadnya, lalu datang dua Malaikat dan mereka
pun mendudukkannya, kemudian bertanya kepadanya, "Siapa Rabb-mu?" Ia
menjawab, "Aku tidak tahu." Malaikat bertanya lagi, "Apa
agamamu?" Ia menjawab, "Aku tidak tahu." Malaikat
bertanya,"Siapa orang yang diutus Alloh kepada kalian?" Ia menjawab,
"Aku tidak tahu." Kemudian ada penyeru dari langit mengatakan,
"hamba-Ku memang dusta, maka berilah ia alas dari neraka dan bukakan
baginya pintu menuju neraka.
Maka sampailah padanya sebagian dari hawa terik dan angin panas Neraka,
lalu disempitkan kuburnya sehingga remuklah tulang-tulang rusuk-nya. Lalu datanglah
padanya seorang yang berwajah buruk, berpakaian buruk, berbau busuk dan
berkata kepadanya, "Terimalah kabar yang menyedihkan ini, ini adalah hari
yang dijanjikan kepadamu." Ia bertanya, "Siapa engkau ini, wajahmu
adalah wajah yang membawa keburukan." ia menjawab, "Aku adalah
perbuatan burukmu." Ia berkata, "ya Robb, jangan jadikan
hari kiamat.
[HR.Abu Dawud, An Nasa'i dan Ibnu Majah]
Dikutip dari Tafsir Ibnu Katsir 4/539-541
# Imam Ahmad mengatakan bahwa Abu Bakar ash Shidiq RA berdiri lalu
memanjatkan pujian kepada Alloh, lalu ia berkata,"Hai sekalian manusia,
sesungguhnya kalian telah membaca ayat ini : " Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah
orang yang sesat itu akan memberi mudarat kepadamu apabila kamu telah mendapat
petunjuk." Dan sesungguhnya kalian telah menempatkan bukan
pada tempatnya. Sesungguhnya aku pernah mendengar Rosululloh SAW bersabda,
"Sesungguhnya jika manusia melihat kemungkaran dan tidak mengubahnya,
hampir saja Alloh Aza Wajalla menimpakan azab-Nya kepada mereka semuanya."
[HR.Ashabus Sunan]
# Abu Isa at Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Ummayah asy Syabani, ia berkata
: "Aku pernah mendatangi Abu Tsalabah al Khusyani, lalu kutanyakan
kepadanya, 'Bagaimanakah mengamalkan ayat ini?' Maka ia balik bertanya, 'Ayat
yang mana?' Kemudian kukatakan, "Firman Alloh SWT, "Hai orang-orang yang beriman, jagalah
dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudarat kepadamu apabila
kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka
Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan."
Ia menjawab, "Demi Alloh, sesungguhnya aku telah menanyakan hal itu kepada
seseorang yang benar-benar mengerti. Aku pernah menanyakan hal itu kepada
Rosululloh SAW, maka beliau menjawab, "Bahkan hendaklah kalian saling
menyuruh berbuat ma'ruf dan saling mencegah kemungkaran, sehingga jika engkau
melihat kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dunia yang diutamakan,
dan kekaguman setiap orang kepada pendapatnya, hendaklah engkau menjaga dirimu
sendiri dan tinggalkanlah orang-orang awam, karena dibelakang kalian masih ada
hari-hari yang panjang. Orang yang sabar di dalam hari-hari itu tidak ubahnya
seperti orang yang menggenggam bara. Bagi orang yang beramal pada hari-hari itu
akan memperoleh balasan seperti balasan yang diberikan kepada lima puluh orang
laki-laki yang beramal seperti amal kalian."
Abdullah bin Al Mubarak mengatakan, selain Utsbah, ada yang menambahkan,
Dikatakan, "Ya Rosululloh, balasan lima puluh orang laki-laki dari kita
atau dari mereka?" Beliau menjawab, "Bahkan balasan lima puluh orang
laki-laki dari kalian." [HR.At Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu Majah, Ibnu Jarir,
Ibnu Abi Hatim]
Dikutip dari Tafsir Ibnu Katsir 3/172-173
#
Rasululloh SAW bersabda, "(Artinya), Jika salah seorang dari kalian telah
selesai tasyahud akhir, hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah dari 4
perkara, katakan : 'Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari adzab jahannam,
adzab kubur, fitnah hidup dan mati dan dari kejelekan (fitnah) al masih
Dajjal'. [AllooHumma inii a'uudzu bika min ‘adzaabi jaHannama wamin
‘adzaabil qobri wamin fitnatil mahyaa wal mamaati wamin syarri fitnatil
masiihid dajaal]. (Kemudian ia berdoa untuk dirinya apa yang terlintas
dalam hatinya)." [HR.Muslim, Abu Awanah, An Nasai dan Ibnul Jarud]
Beliau SAW biasa berdoa dengannya saat tasyahud. [HR.Abu Daud dan Ahmad]
Dan beliau mengajarkan kepada para sahabat sebagaimana mengajarkan surat Al Quran. [HR.Muslim
dan Abu Awanah]
[Dikutip dari Tuntunan Shalat Nabi - M.Nashiruddin Al Albani - bab Wajibnya
memohon perlindungan dari 4 perkara]
Dari Ibnu Abbas RA., ia
berkata : "Sesungguhnya Rosululloh SAW berdoa : "ALLOOHUMMALAKA
ASLAMTU WABIKA AAMANTU WA'ALAIKA TAWAKKALTU WA ILAIKA ANABTU WABIKA KHOOSHOMTU
ALLOHUMMA A'UUDZU BI'IZZATIKA LAA ILAAHA ILLAA ANTA ANTUDHILLANI ANTAL HAYYUL
LADZII LAA YAMUUTU WAL JINNU WAL INSU YAMUUTUUNA." (Ya Allah, hanya kepada-Mu
saya berserah diri, dan kepada-Mu saya percaya sepenuh hati, dan hanya kepada
Engkau-lah saya kembali dan untuk-Mulah saya berjuang. Ya Allah, saya
berlindung dengan kemuliaan-Mu yang tiada Tuhan selain Engkau dan aku mohon
agar Engkau tidak menyesatkan diriku. Engkau adalah Zat Yang Hidup yang tidak
akan pernah mati, sedangkan jin dan manusia semuanya akan mati.)
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dari Ibnu Abbas ra., ia berkata : "HASBUNALLOH WANI'MAL WAKIL, kalimat itu
pernah dibaca oleh Nabi Ibrahim as. ketika beliau dilemparkan ke dalam api, dan
juga dibaca oleh Nabi Muhammad saw. ketika orang-orang kafir mengatakan :
"Sesungguhnya orang-orang Quraisy telah mengumpulkan pasukan untuk
menyerang kalian. Oleh karena itu, takutlah kalian kepada mereka." Akan
tetapi perkataan itu malah menambah keimanan mereka serta mereka mengucapkan :
"HASBUNALLOHU WANI'MAL WAKIIL."
Pada riwayat Bukhari yang lain, bahwa Ibnu Abbas ra. berkata : "Kalimat
terakhir yang diucapkan oleh Nabi Ibrahim ketika dilemparkan ke dalam api
adalah "HASBUNALLOOHU WANI'MAL WAKIIL (Allah cukup menjadi Penolong bagi
kami, Allah adalah sebaik-baik pelindung)."
(HR. Bukhari)
[Dikutip
dari Tarjamah Riyadhush Sholihin - ]
# Abdullah bin Imam Ahmad meriwayatkan dari Usaid bin Abi Usaid, dari Muadz
bin Abdillah bin Habib dari ayahnya, dia berkata, "Kami pernah merasa haus
dan berada dalam gelap gulita, sedang kami tengah menunggu Rasululloh SAW
shalat bersama kami, lalu beliau keluar dan memegang tanganku seraya berkata,
'Katakanlah' Maka aku pun terdiam. Beliau berkata lagi, 'Katakanlah. '
Kutanyakan, 'Apa yang harus kukatakan?' Beliau menjawab, 'Qul Huwallaahu Ahad
dan al Mu'awwidzatain (Al Falaq dan An Naas) saat memasuki waktu sore dan saat
memasuki waktu pagi hari sebanyak tiga kali niscaya akan diberikan kecukupan
kepadamu setiap hari dua kali.'"
Diriwayatkan oleh Abu Daud, at Tirmidzi, an Nasai dan Ibnu Abi Adz dzib.
At Tirmidzi mengatakan "Hasan shahih gharib"
Diriwayatkan pula oleh An Nasai melalui jalur lain dari Muadz bin Abdillah bin
Habib dari ayahnya dari Uqbah bin Amir, lalu dia menyebutkan hadits tersebut.
Dan lafadznya, "Maka ia akan mencukupi segala sesuatu."
[Dikutip dari Tafsir Ibnu Katsir - Surat Al Ikhlas - Pustaka Imam As Syafii -
8/573]